• 0541-4122281
  • admin@stih-awanglong.ac.id

YOUNG TEACHERS THE FUTURE OF THE PROFESSION


Dr. Kadarudin

Dosen pada Departemen Hukum Internasional

Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

 

Tepat di tanggal 5 Oktober ini diperingati World Teachers' Day atau Hari Guru Sedunia, hal ini berbeda dengan Hari Guru Nasional di Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 25 November setiap tahunnya melaui Keputusan Presiden RI No. 78 Tahun 1994 yang juga sebagai pengingat terbentuknya PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Bukan hanya di Indonesia, perbedaan mengenai hari guru sedunia dan penetapan hari guru nasional juga terjadi di beberapa negara, seperti di Malaysia yang diperingati pada tanggal 16 Mei setiap tahunnya, Hong Kong pada 10 September (yang sebelum tahun 1997 selalu dirayakan pada 28 September), Argentina pada 11 September, Vietnam pada 20 November, India pada 5 September, Korea Selatan pada 15 Mei, Iran pada 2 Mei, Singapura 1 September, Thailand pada 16 Januari, dan Taiwan pada 28 September, namun ada juga beberapa negara yang hari guru nasionalnya bertepatan dengan hari guru sedunia, seperti Filipina dan Pakistan.

Pada setiap peringatan World Teachers' Day setiap tahunnya, UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) bersama mitranya, seperti ILO (International Labour Organization), Education International, UNICEF (the United Nations International Children's Emergency Fund), dan UNDP (The United Nations Development Programme) melakukan kampanye dengan tema yang berbeda-beda, seperti di tahun sebelumnya (2018) tema kampanye adalah “The right to education means the right to a qualified teacher” (Hak untuk pendidikan berarti hak untuk guru yang berkualitas), maka di tahun ini, tema kampanye-nya adalah “Young Teachers: the Future of the Profession” (Guru Muda: Masa Depan Profesi) sebagaimana yang tertera di website resmi UNESCO. Latar belakang pemilihan tema kampanye tersebut adalah we recognize the critical importance of  reaffirming  the  value  of  the  teaching  mission.  We  call  upon  governments to make teaching a profession of first choice for young people. We also invite teacher unions, private  sector  employers,  school  principals,  parent-teacher association, school management  committees,  education  officials  and  teacher  trainers  to  share  their  wisdom  and  experiences  in  promoting  the  emergence  of  a  vibrant teaching force. Above all, we  celebrate  the  work  of  dedicated  teachers  around  the  world  who continue to strive every day to ensure that ‘inclusive and equitable quality education’ and the promotion of ‘lifelong learning opportunities for all’ become a reality in every corner of the globe".

Young Teachers: the Future of the Profession sangat penting untuk dipahami sebagai pengingat bahwa saat ini era telah berubah, di era Revolusi Industri 4.0. ini guru tidak boleh lagi memiliki sifat yang konservatif, kemudahan akses informasi dari berbagai penjuru dunia tanpa tersekat-sekat oleh batas teritorial negara menjadikan murid bisa saja lebih tau informasi terkini (update) dibandingkan guru, oleh karenanya sistem pendidikan yang ada saat ini lebih menekankan guru sebagai fasilitator dibandingkan sebagai pengajar. Pendidikan sangatlah penting, karena pendidikan yang memberikan batasan kepada setiap orang untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang lebih baik, karena begitu pentingnya sebuah pendidikan, maka peran guru/fasilitator jauh lebih penting sebagai pengarah agar pendidikan memiliki nilai yang positif dan memiliki makna.

Generasi muda adalah harapan bangsa di masa depan, dia adalah peletak kendali negara pada 20 sampai 30 tahun ke depan, oleh karenanya profesi sebagai guru/dosen/tutor/fasilitator harus dipikirkan sejak dini, utamanya para generasi muda yang memiliki minat dan kemampuan pada profesi tersebut, karena salah satu perannya-lah yang menentukan bagaimana para pemimpin di masa depan dapat berpikir dan bertindak dengan benar dan membawa bangsa ini dapat terus bersaing dengan negara-negara lain, bahkan bisa lebih baik dari apa yang telah diperoleh hari ini. Kita dapat belajar dari kisah keberhasilan Aristoteles yang mengajari Alexander hingga usia 16 tahun, yang pada usia 30 tahun Alexander telah mampu menciptakan salah satu imperium terbesar yang membentang dari Laut Ionia ke Himalaya, maka tidak heran Alexander Agung III menjadi Raja di Makedonia setelah menggantikan ayahnya Philip II pada 336 Sebelum Masehi. Saat menjadi raja, ia pun berhasil memenangkan banyak perang, bahkan mampu mengalahkan Raja Persia kala itu, yakni Raja Darius III sehingga dapat menaklukkan keseluruhan wilayah kekuasaan dari Kekaisaran Persia. Tak kalah pentingnya, ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Ibn Sina, Thomas Young, Al-Khawarizmi, Michael Faraday, Jabir Ibn- Hayyan, Albert Einstein, Ibnu Al-Nafis, dan B.J. Habibie adalah para sosok yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di lintas generasi, tidak lain mereka berada pada tahap itu adalah merupakan salah satu kontribusi dari seorang guru yang mengajar dan mendidiknya dengan baik, walaupun kita tidak boleh naif bahwa “every profession is equally important”.

Kita dapat bercermin pada Jepang, tatkala Hiroshima dan Nagasaki di bom, Kaisar Hirohito mengumpulkan para jenderal yang tersisa dan menanyakan “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?. Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kumpulkan para guru yang masih tersisa di seluruh pelosok negeri ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan tentara”. Begitu pentingnya peran guru dimata Kaisar Hirohito saat itu, dan kita bisa lihat bagaimana kemajuan Jepang saat ini, bahkan telah menjadi role-model bagi negara-negara yang sedang melakukan studi tentang Human Security.

Di zaman post atomic era saat ini, ketika para anak muda memiliki hasrat dan bercita-cita sebagai seorang entrepreneur, advokat, dokter, politikus, engineer, atau bahkan seorang presiden, maka perlu beberapa diantara mereka juga memikirkan bahwa alangkah baiknya menjadi seorang guru/dosen/tutor/fasilitator, tidak sampai disitu saja, tetapi bagaimana memaksimalkan profesi tersebut, yakni bukan hanya menjadi guru/dosen/tutor/fasilitator yang cukup mentransfer ilmu pengetahuan (mengajar), melainkan juga menjadi pendidik dan tauladan bagi anak didik dan para alumninya. Sepemahaman saya “ilmu pengetahuan menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan manusia dengan penciptanya”, oleh karenanya guru/dosen/tutor/fasilitator adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan sebagai penjaga jembatan tersebut agar tidak putus.

So, prepare yourself to be a good teacher.

Young Teachers: the Future of the Profession.

Happy World Teachers' Day

October 5, 2019

 

***